Tampilkan postingan dengan label adya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label adya. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Agustus 2013

Menikmati Keberduaan

Happy Ied Mubarak J

Selamat hari raya idul fitri, semoga berkah dan diterima semua amalan kita di bulan ramadhan

Idul fitri kali ini saya benar-benar menikmati keberduaan bersama putri saya. Subhanallah… dada ini rasanya plong, pikiran ini rasanya fresh.. semoga ini adalah hikmah dari doa-doa saya di bulan ramadhan tahun ini.

Mungkin banyak diantara teman dan kerabat yang tahu status saya atau baru tahu status saya akan mengatakan (minimal mbatin) merasa kasihan pada saya, terutama putri saya karena lebaran hanya berdua.  Lebaran tahun lalu, saya memang ikut serta meratapi keadaan saya. Walaupun saya bicara

“ya, saya bangkit… gak boleh meratapi keadaan”

Tapi tetap saja saya butuh waktu lama untuk benar-benar keluar dari belenggu keterpurukan ini.

Lebaran tahun lalu saya masih meratap masih bersedih sampai-sampai bertemu sanak keluarga dan kawan saja enggan. Menangis di setiap sudut waktu. Memaki di setiap deburan amarah yang tiba-tiba menggelora jika mengingat kejadian demi kejadian yang tak sanggup saya ubah. Malu… terkucil… tersudut… apalagi diantara mereka yang berbahagia dengan keluarga kecilnya.

Setahun berlalu, membawa saya belajar mengikhlaskan kehidupan.
Bukankah kebahagiaan itu ada di hati? Tidak ada batasan bahagia… dan saya akan menciptakan kebahagiaan saya, dalam keberduaan.

Dan jika anda adalah sahabat yang mengikuti pengembaraan saya mencari makna hidup yang hancur lebur, anda akan merasakan bahwa saya saat ini benar-benar “lepas”. Saya tidak bisa mendeskripsikan bagaimana rasanya, tapi saya sungguh-sungguh kembali menjadi “Ajipadma” yang dulu anda kenal.

Berdua bersama Adya menghabiskan malam-malam ramadhan, sangat indah

Berdua bersama Adya, melihatnya tumbuh.. pandai bercerita, pandai bernyanyi dan menari, pandai bersalawat dan menghafal doa-doa pendek serta surat pendek, sungguh indah

Berdua bersama Adya berjalan menyusuri Villa Nusa Indah sekedar membeli ta’jil, terasa indah
Berpelukan, ngambek-ngambekan, rebutan remote TV atau laptop, gaya-gayaan di depan kamera BB, tertawa, menangis.

Adyaku .. putriku.. patner yang hebat untuk melepaskan semua gundah ini.

Kami cuma berdua, dan kami bahagia

Jika kelak ada seseorang yang ingin mencintai dengan tulus, cintailah kami berdua.. jangan cuma satu diantara kami. Karena melalui air susu saya, darah kami sudah bersatu.

Untuk para single parent di dunia ini, baik para single mother ataupun single father. Baik menjadi single parent karena kematian atau perceraian. Saya ingin menularkan semangat saya ini. Jangan pernah menyerah, kita tidak tahu apa yang ada didepan.

Terus peluk erat putra/putri anda, dan rasakan jutaan harapan disana.. rasakan kebahagiaan.
Terus meminta pada Allah, kasih tau Allah apa yang kita mau dan biarkan Allah mengabulkan dengan caraNya.

Semangat! 

                                                                                                                  

*tulisan saya ini saya dedikasikan untuk diri saya sendiri, menyemangati diri sendiri* 

Selasa, 22 Januari 2013

Gak Ada Judul

Hari ini hanya ingin memeluk dan menciumi adya saja.. menikmati harum aroma mulutnya. Ajaibnya... makan apa saja aroma mulutnya tetap wangi, gak seperti kita orang dewasa hehe..
Entah... apa karena hari ini cuaca mendukung untuk berlama-lama diatas tempat tidur menghabiskan waktu cuma berdua dengan Adya. memandangi wajah tidurnya yang polos tanpa beban dan dosa...

Allah, sanggupkan aku membesarkannya dengan bijaksana
menjadikannya perempuan  soleha yang bijaksana
menjadikannya perempuan terhormat yang menjaga kehormatannya
perempuan yang punya harga diri tapi rendah hati

Allah, aku titipkan anakku lewat doa-doaku
hanya engkau sebaik-baiknya penjaganya... saat aku pergi mencari nafkah
saat aku tidak selalu bisa disampingnya

Allah, izinkan anakku tidak kehilangan keceriaan dan hari-harinya seperti anak-anak lain di setiap tahapan usianya... meski aku sendirian membesarkannya.
sanggupkan aku memenuhi semua kebutuhannya
memberi cinta dan sayang terbaik
memberi pendidikan terbaik
memberi contoh terbaik
memberi fasilitas terbaik
dengan segala keterbatasanku, aku yakin perpanjangan tanganMu

Sanggupkan aku selalu berada di jalan yang benar dalam kesendirian ini








Selasa, 03 April 2012

MENJELANG SATU TAHUN

Lima hari lagi putri kecil saya berusia 1 tahun. Bayi cantik yang dulu hanya bisa nangis, pup, pee, nenen.. sekarang sudah cerewet dan gak bisa diam. Ini tingkah polahnya menjelang 1 tahun usianya ...

nyebar uang recehan, terus dimasukkan ke dompet .. disebar lagi, dimasukkan ke dompet lagi :)
Lipstik Mamah dicluwekin 

Bantu Mamah beresin lemari piring



Minta pakai mukena kalau ikut Mamah sholat
Lagi suka coret-corett buku, sampai katalog gitar Papah n pipinya dicoret juga
Lagi hobi main di teras belakang rumah sambil nyanyi-nyanyi memandang langit atau ngejar semut
Mungkin gayanya menelpon ini ngikutin saya :D
Oprak aprik tempat bajunya


 

Jumat, 30 Maret 2012

ADYA BERDOA


Tiba-tiba Adya menengadahkan tangan gerakan berdoa, kemudian menyapukan dua telapak tangannya ke muka, tersenyum pada saya … dan kembali menyusu
 
Ya …kira-kira seperti itu ketika saya memergoki Adya anak saya sedang melakukan gerakan berdoa. Waktu itu Adya berusia sekitar 10 bulan. Senang dan terharu melihatnya, anak sekecil itu sudah bisa melakukan gerakan berdoa. Walaupun mungkin di usianya Adya belum mengerti makna menengadahkan tangan itu apa, paling tidak dia sudah belajar cara meminta dan memohon pada Allah SWT dengan berdoa.

Kegiatan berdoa Adya sudah saya biasakan sejak di dalam kandungan. Pada awal kehidupannya dirahim saya,  detak jantung embrio (cikal bakal Adya) sempat tidak terdeteksi alat USG, dokter meminta saya dan suami untuk datang beberapa seminggu lagi untuk melihat perkembangan janin. Sedih sekali rasanya padahal pada pemeriksaan pertama embrio sudah terlihat, perhitungan USG sudah usia 6 minggu. 

Dari hasil browsing ada beberapa kemungkinan, bisa jadi Blighted Ovum atau kehamilan kosong keadaan dimana terjadi kehamilan namun janin tidak berkembang sehingga hanya dijumpai kantong rahim saja. Kemungkinan lainnya bisa jadi tidak terdeteksi karena embrio masih terlalu kecil ukurannya sehingga alat USG yang memang hanya 2 dimensi itu tidak dapat mendeteksinya. Masih ada kemungkinan, ya… masih banyak kemungkinan kehidupan di rahim saya masih ada.

Jeda waktu ke kontrol berikutnya saya gunakan untuk memohon pada Allah akan keselamatan bakal anak saya. Allah yang memberi kehidupan, mudah bagi Allah untuk mematikan atau menghidupkan calon anak saya. Disetiap waktu-waktu berdoa saya elus perut saya dan mengajak calon anak saya berdoa.  
“Nak, ayo kita berdoa memohon keselamatan dan kesehatanmu pada Allah. Allah penciptamu, Dia yang memberimu kehidupan. Ayo kita berdoa bersama supaya kamu bisa terlahir untuk menemani Mamah”
“Ya Allah… Sehatkan calon anakku, beri kehidupan padanya, karuniakan dia untuk keluarga kecil kami, amin”
Alhamdulillah doa saya, doa calon anak saya, doa suami, doa kami dikabulkan Allah. Pada kontrol berikutnya, denyut jantung terlihat jelas. Bulatan hitam dirahim saya terlihat berpedar-pedar tanda bahwa jantunya berdenyut. Waktu itu kami cek kehamilan memang bukan di rumah sakit, hanya di dokter kandungan yang praktek di dekat rumah, dia tidak memiliki Fetal Doppler untuk mendengarkan detak jantung janin jadi hanya mengandalkan USG 2 dimensi yang dia miliki. Terimakasih Allah…

Masih di trimester pertama saya mengandung Adya, kami diuji lagi dengan tidak bekerjanya suami saya. Ada beberapa alasan di kantornya saat itu yang berhubungan dengan prinsip dan harga dirinya sehingga suami saya memutuskan untuk berhenti bekerja. Bayangkan disaat hamil muda, saat kondisi hormon dan psikologis sedang tidak menentu, saat butuh biaya lebih untuk persiapan melahirkan dan kontrol kandungan ternyata saya menghadapi kenyataan suami tidak bekerja. Apalagi melihat kenyataan bahwa di jaman sekarang mencari pekerjaan itu bukan hal mudah sedangkan untuk berwiraswasta kami belum punya modal. Dibalik ikhtiar suami, saya berdoa, saya ajarkan Adya berdoa.

Saya ajak Adya yang masih dirahim bangun tahajjud mengalahkan rasa malas, mengantuk dan lelah yang teramat sangat setelah seharian bekerja. Disela-sela bekerja, saya ajak Adya berdhuha mengalahkan rasa mual akibat morning sickness yang memang parah-parahnya ada di waktu-waktu dhuha. Saya ajak Adya berdoa memohon kemudahan rezeki suami saya, papahnya Adya.
“Nak, yuk kita doakan papah supaya cepat dapat kerja lagi. Kita doakan papah supaya rezekinya mengalir untuk mu”
Satu setengah bulan kemudian, doa kami terjawab. Suami mendapatkan pekerjaan lagi bahkan sekaligus di dua tempat, dua-duanya bagus tinggal kami memilih saja yang paling mudah aksesnya dengan tempat tinggal kami dan yang tunjangan kesehatan bagi ibu dan anak karyawannya lebih banyak. Bersyukur akhirnya melalui pekerjaannya tersebut saya bisa kontrol hamil dan melahirkan dengan fasilitas yang memadai … mmm lebih dari memadai bagi saya. Terimakasih ya Allah, Kau jawab doa kami.

Begitulah saya mengajari Adya berdoa sejak berada di dalam rahim saya. Saya ajak berkomunikasi, saya ajak bicara. Karena janin sudah mendengar apa yang ibunya katakan, maka saya berusaha mengajari Adya berdoa mengajarinya meminta hanya pada Allah sejak dia masih di kandungan. Menurut sumber yang saya baca rahim ternyata menjadi tempat yang luar biasa bagus untuk merangsang bayi dalam banyak hal, seperti di sekolah, karena banyak hal yang dipelajari bayi selama didalam kandungan. [i]

“Pelajaran Berdoa” Adya saya lanjutkan ketika Adya sudah lahir. Seperti halnya di dalam kandungan, Adya bayi pun saya ajak berkomunikasi, saya ajak berdoa. Mulai dari doa sehari-hari seperti ketika mau menyusu, mau tidur, mau mandi. Pun ketika usia 3 bulan adya terdeteksi terdengar murmur di jantungnya (suara desir jantung karena ada aliran darah melewati bilik-bilik jantung). 

Masya Allah, murmur yang saya tahu biasanya terdengar pada bayi yang bocor jantung. Oleh dokter anak kami dirujuk untuk melakukan USG jantung. Dari hasil browsing dan diskusi dengan dokter anak, heart murmur tidak selamanya berbahaya, pada bayi 3 bulan masih ada kemungkinan perkembangan jantungnya belum sempurna jadi melalui stetoskop ada beberapa yang terdengar murmur. Beri ASI terus supaya sel-sel dijantung berkembang dan menutupi kebocoran tersebut, begitu saran dokter anak.

Maka ikhtiar yang saya lakukan adalah memberi ASI sesering dan sebanyak mungkin dengan pelekatan yang benar sehingga ASI bisa keluar dengan maksimal dan Adya pun meminumnya dengan maksimal. Tentunya tak lupa kami berdoa, saya ajak adya untuk berdoa supaya desiran jantungnya termasuk yang tidak berbahaya. Seminggu kemudian kami melakukan USG jantung, Alhamdulillah hasil echocardiogram menunjukkan kalau desir jantung tersebut inosen, tidak berbahaya.

Ketika mau tidur, biasanya saya ajak adya berdoa. Pertama saya contohkan mengangkat tangan gerakan doa sambil membaca “bismika allahum ahya wabismika amut, amin” diakhiri dengan mengusapkan telapak tangan ke wajah. Kemudian gerakan tersebut saya praktekkan ke Adya, setelah itu dia menyusu dan tidur. Berulang-ulang kebiasaan itu saya lakukan, hingga akhirnya di usia 10 bulan Adya mahir melakukannya sendiri.

Saya pernah membaca sebuah hadist :
“Doa adalah otaknya ibadah” HR. Tirmidzi
Semoga ibadah pertama yang bisa Adya lakukan sendiri ini bisa menjadi awal yang baik hingga saat dia dewasa. Bisa mengajarkan Adya bahwa hanya Allah satu-satunya tempat meminta, bukan pada mahluknya atau memohon pada kemusyrikan. Mengajarkan Adya bahwa Allah lah tempat bergantung disaat kesulitan, mengajarkan Adya tentang tauhid. Semoga kelak doa Adya bisa menyelamatkan kami orang tuanya dari siksa api neraka.

Nak, teruslah berdoa, gantungkan permohonan dan harapanmu hanya pada Allah ta’ala.
“yuk sayang Mamah ajarkan doa lagi, Robbi firli wali wali daya warhamhuma kama robbaya ni soghiroh... amin...”





Senin, 06 Februari 2012

Hadiah Terindah - SHANAYA ATHFA ADYADENA

RE-POST
Berhubung saya belom mood nulis, jadi repost repost dulu aja ah... ini pernah saya tulis di note facebook saya tanggal 14 April 2011 pukul : 20.15
---------------------------------------------------

Hari yang sama (Kamis) Seminggu yang lalu.. saya sedang meringis kesakitan sambil berjalan mondar mandir di lantai 2 RSIA Hermina Grand Wisata menahan mules yang luar biasa di dipembukaan 1, saat itu saya ditemani ibu dan bulik.
Sebenarnya mules2 ini sudah saya rasakan sejak hari Rabu, 6 April. Dengan diantar suami, saya ke RS iseng2 periksa karena paginya keluar lendir dan darah yang merupakan salah satu tanda akan melahirkan. Sampai di RS saya di CTG, serangkaian tes-tes dan diperiksa dalam ... ternyata masih pembukaan 1. Eee Dokter menyuruh saya pulang lagi..

Masih hari kamis 7 April 2011, pukul 17.00 saya masih pembukaan 1 .. haduh padahal mulesnya dah makin sering. Sampai tiba2 saya merasakan ada cairan seperti pipis yang merembes. Saya jalan sambil meringis ke ruang persalinan .. "Mbak Bidan (bidannya masih muda soalnya :D) kok kaya ada yg merembes ya? ketuban bukan?" .. "yuk bu diperiksa dulu"
"wah ...iya ketuban bu, ibu udah gk boleh jalan-jalan ya, harus di tempat tidur"

horeeee persalinanku semakin dekattt .... ^-^
Suamiku datang sekitar magrib. Saya sudah tiduran dengan 'tidak manis' di ruang bersalin. Sakitnya makin menjadi-jadi..
awalnya sambil menahan sakit saya masih bisa ngobrol2 dengan ibu dan bulik yang menemani ... lama-lama obrolan itu jadi rintihan ... sakiiiitttt bgt..ah pokoknya gk bisa diungkapkan dengan kata-kata deh. Kata Mbak Bidan, itu karena ketubannya udah duluan keluar jadi sakit bgt ... huaaaaa "mbak bidah, saya lahiran kapannnn???" sering bgt pertanyaan itu terlontar.
Makin naik pembukaannya, makin mantab mulesnya ... pokoknya semua teori senam hamil lenyap, yg saya inget cuma "tarik nafas panjang, keluarkan pelan-pelan" ... tapiiiiiii realitanya, saya bisa narik nafas panjang ngeluarinnya gak bisa pelan. jam 9 diperiksa, pembukaan masih 5 kalo gak salah ... aduuhhhhhh ...
waktu pembukaan dah menginjak ke pembukaan 6 menuju 7.. wah, sensasi mau ngeden terus menerjang. itu fase-fase paling sakit menurut saya. Menahan ngeden. Saya gak bisa nahan untuk gak teriak ...bantuan oksigen mulai dikasih

"ibuuuu aku mau nangis yaaaaa .....boleh yaaaa, sakit banget buuuu" Ibu menciumi aku sambil nahan nangis.
"jangan teriak mbakk nanti gak ada tenaga untuk ngeden, baca ayat kursi .. istigfar mbakkk" kata ibu sambil melukin saya. Sepertinya ibu gak tahan ngeliat anaknya merintih-rintih. Akhirnya ibu keluar. Tinggal bulek, mas yadi dan mbak bidan yang nunggu saya ... bulek mengelus2 punggung saya dan Mas Yadi saya peluk pinggangnya untuk menahan sakit. posisi yang paling saya suka waktu itu adalah miring ke kiri.

"Mas yadi, kamu sayang sama aku nggak ..." sambil makin aku peluk pinggangnya supaya meredakan sakit
"iya, aku sayang kamu.. tarik nafas panjang, jangan nangis terus.. istigfar... doaaa"

sambil merintih, kadang teriak ... takbir, istigfar dan ayat kursi gak lepas saya baca dalam rintihan saya. Benar-benar perjuangan hidup dan mati teman-teman

Beberapa saudara datang dan masuk ke ruang bersalin, beberapa saya minta keluar ...
(hehehe sorry de morry ya untuk mas-masku dan omku yang waktu itu aku usir ... lagian sih ada orang kesakitan malah mesam mesem. sensi tingkat tinggi tauuuuuu)

Dokter mulai datang, infus dipasang ... anti alergi disuntikkan ... tes gula darah 'lagi-lagi' dilakukan. Yup karena saya kena diabetes kehamilan, maka gula darah harus dikontrol terus. Dalam keadaan stress gula darah saya bisa melonjak dan dapat menyebabkan eklampsia, tensi naik, jantung yah pokoknya yg serem2 gitu deh, dan harus disuntikkan insulin.
(untuk mbak-mbak suster yang bertugas menyuntik saya .. maaf ya mesti sabar nunggu sampai saya gak kontraksi baru disuntik ... sakit tau mbak :P)

Alhamdulillah meski saya meronta, saya teriak-teriak dan mengeluarkan suara-suara aneh saat menarik nafas dan mengeluarkan nafas menahan sakit. Otak saya masih sadar. Saya memerintahkan diri saya untuk gak stress supaya insulin saya bekerja baik dan gak melonjak gula darahnya. "suara-suara" aneh dan teriakan yang saya keluarkan itu salah satu caranya. Saya merasa saya punya sisa energi banyak untuk ngeden, makanya meski dilarang teriak ... saya nekat teriak hehehehe ... (dont try it at home ya teman2 yg mo ngelahirin kalo merasa fisiknya lemah, tapi kalo fisiknya kuat sok aja lakukan... efektif kok untuk menahan sakit hehehehe menurut saya lho :D)

Menjelang tengah malam, dokter datang ... kata mbak bidan pembukaan saya dah lengkap, tapi kata dokter masih 6. WHATTTTTT!!!! KAPAN SAYA LAHIRAN DOOOOKKKK ...
Saya mulai gak teriak ketika dibolehkan belajar ngeden. Nikmattt bgt temen-temen, kalo pas lagi mules dibolehin ngeden :D. Akhirnya proses melahirkan pun tiba ... mules ... ngeden ... mules ... ngeden.
"ayo bu padma ngeden yang panjang dan kuat, anaknya sudah di jalan lahir .. kepalanya dah keliatan tuh ... ayoo"
bu dokter menyemangati.
tetep gak bisa temen-temen .... susaaahhhh bgt ngeluarinnya.
dan kata dokter, susah ngelurinnya karena anak saya posisinya telungkup tapi kepalanya mendongak (mungkin dia mau ngintip dunia dok :D).
"saya harus gimana doookkk kok gak lahir-lahiiirrrr" sambil menangis saya ngerajuk ke dokternya.
"ngeden yang kuat bu padma"
"sudah dooookkkk".. "lagiiii....!!"
"oke kita pake vakum" huaaaaaaaaaaa.... saya pasrah, gak tau vakum itu gimana.

Ruangan makin ramai. Ada Dokter Rizky, Mbak Bidan, 2 perawat yg bantuin proses pemvakuman.
Dipojok kiri saya ada dokter jaga yang juga membantu dan 3 atau 2 suster bayi saya gak ngitungin :D

"kalo ibu mau ngeden, bilang ya"
"begitu sensasi ngeden datang, vakum bekerja ...." "Plupppp" ... vakum copot suasana makin genting dan ramai, saya gak peduli. Yang ada dalam pikiran saya adalah ngeden sekuat-kuatnya sampai anak saya lahir.
"dookk, saya mau ngedennnnn" ... semua langsung siaga ...
bidan mendorong perut saya, dokter rizky siap memutar anak saya ... dokter jaga dan suster bayi juga siap2 ...
saya ngeden sejadi-jadinya sambil melafazkan Allahuuuu Akbaaarrrr, suami saya membantu memegang punggung saya.
tangan saya gak lagi menompang kaki, karena dua kaki saya sudah diikat di alat yang gak tau apa namanya.
Bulek saya gak keluar ruangan tanpa pamit ke saya karena gak tahan ngeliat ponakannya. Bulek mengajak ibu ke mushola untuk sholat sunah dan mendokakan saya ...

"sudah bu, sudah jangan ngeden lagi ... bayinya sudah keluar"
"ALHAMDULILLLAAAAAAAAAAAAAAAAAA, ALLAHU AKBARRRR!!!!!!!!!"
Lahir tanggal 8 April 2011, pukul 00.50. Berat 2976 gram, panjang 49 cm :)
Semua sakit seketika hilang ...

Anak saya langsung ditangani oleh tim medis yang berjaga. Dokter rizky dan bidan menjahits bekas guntingan.

"dookk saya mau IMD" ... "iya kita lihat dulu kondisi bayi ya, bayi ibu kelamaan dijalan lahir"
menegok kesebelah kiri, saya lihat muka tegang para tim medis yg menangani malaikat kecil saya... ya Allah nafasnya tersenggal-senggal, kulitnya pucattt ... ya Allah selamatkan anak saya...

"anak mamah kuat ya naaakkk..." ucap saya.
saya dengar suami saya mengazankan ... dan ketika itu dokter yang menangani anak saya bilang. Dok gak bisa IMD, Bayinya sesak nafas ...

hikssss.... pupus sudah keinginan saya untuk IMD. Saya hanya boleh memeluknya sebentar ... menciuminya ...
"assalamualaikum nak, ini mamah ...yang kuat ya nak" saya cium anak saya. Matanya melihat saya seolah mengerti kata-kata saya ... seolah dia bilang ke saya "Mamah tolong akuuuu mamahhh"
Nafasnya seperi saya kalo lagi asmanya kambuh... saya gak tega ....

Saat saya sedang di observasi pasca melahirkan. Suster anak menghampiri saya dan suami. Gula darah anak kami drop..
Ya Allag ini yang paling saya takutkan. Karena saya kena diabetes kehamilan, anak saya biasa mendapatkan makanan dari darah saya, dan dia bisa tiba-tiba drop ketika dilahirkan karena tidak dapat nutrisi dari saya ... itu berbahaya.
"dia butuh makanan bu, asinya sudah keluar?"
ya ampuunn kan saya baru aja melahirkan, Asi saya belum keluar ... gimana dooonkkkk...

"bu, kata dokter anaknya ... cuma ada dua pilihan kalau asi ibu belum keluar. kita pakai sufor atau diinfus"
"lebih baik mana mbak?" ...
"semua kami serahkan ke ibu dan bapak ..."
Setelah diskusi panjang lebar, akhirnya kami sepakat memberikan sufor dulu .. merk sufornya pun atas rekomendasi dokter. Bismillah .... satu lagi harapan saya untuk ASI EKSKLUSIF hilang .. sedihhhh :'(
Suami saya diminta menandatangani kalo kami setuju pakai sufor.

Sehabis melahirkan, saya gk merasakan lemes .... setelah diobservasi, saya dipindahkan ke ruang perawatan.
sendirian di ruang perawatan saya hanya bisa menangis. Membanyangkan malaikat kecil saya sendirian berjuang hidup.
tatapan matanya tadi waktu saya cium .... rintihan suara tangisnya yg gak sepeti bayi baru lahir lainnya.
Saya gak bisa tidur sepeti kebanyakan ibu baru melahirkan .... saya menangis ... merasa jahat pada anak saya ... merasa gagal ... aaagghhhh .....
akhirnya ibu, bulek dan suami saya datang menenangkan ...
Alhamdulillah kondisi anak kami berangsur membaik.....

Mungkin harapan saya akan proses IMD dan ASI X gak sesuai dengan kenyataan, tapi saya yakin ini adalah jalan terbaik yang Allah berikan untuk kami ... saya dan suami.
Sekarang amanah kami bertambah ... amanah untuk menjadikan malaikat kecil kami menjadi manusia mandiri yang solehah, cerdas, membahagiakan keluarga dan menjadi manfaat untuk umat disekelilingnya kelak ...

Selamat datang anakku .. SHANAYA ATHFA ADYADENA ... Hadiah terindah yang cerdas, penuh kegembiraan dan kasih sayang ^-^

Luv u so much
Mamah dan Papah :::